Halaman

Konsep Pendidikan Masa Depan

"Behavioristik VS Konstruktivistik"

olah: Imam Nashokha, S.Pd.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berperan mencetak generasi-generasi penerus bangsa masih cenderung menerapkan atau menggunakan konsep pendidikan klasikal yang lebih banyak mengarah kepada keteraturan, ketertiban, keseragaman, kerapian, sehingga semua tertata rapi. Era “takkan berubah dan tak boleh diubah” yang bermuara pada ”kepastian”, keteraturan, kerapian, ketertiban, dan keseragaman, paling tidak sebagai harapan, karena hingga kini belum pernah menjadi kenyataan, telah kita lewati sekian lama. Siapapun yang hidup di negara ini dipaksa untuk menikmatinya, dan tak terasa telah berjalan selama lebih dari setengah rata-rata usia manusia.

Kini, era “takkan berubah dan tak boleh diubah” mendapat sorotan dan menjadi wacana oleh orang yang peduli akan perubahan, salah satunya adalah Prof. DR. I Nyoman S. Degeng, M.Pd., beliau berpendapat bahwa muara akhir dari era keteraturan adalah ketidakteraturan. Ketertiban bermuara pada kekacauan, dan pada saat ini kita telah mengalami pergeseran dari era “takkan berubah dan tak boleh diubah” menuju era “kesemrawutan”.

Mulai bergesernya era di dalam pendidikan kita selama ini, berimplikasi pada munculnya demokratisasi pendidikan, dimana masing-masing sekolah atau lembaga pendidikan dapat mengembangkan konsep pendidikan yang ada sesuai dengan visi, misi dan potensi yang ada pada sekolah atau lembaga pendidikan tersebut.

Pemecahan masalah-masalah belajar dan pembelajaran sangat nampak sekali bertumpu pada paradigma keteraturan (behavioristik) sebagai lawan dari paradigma kesemrawutan (konstruktivistik). Belajar dan pembelajaran disemua jenjang nampak sekali didesain dengan menggunakan pendekatan keteraturan. Suatu pendekatan yang hingga kini diyakini sangat sahih oleh pengajar, orang tua, atau pendidik lainnya. Pada kajian tentang konsep pendidikan masa depan, penulis mencoba untuk menganalisis berdasarkan bahan bacaan yang relevan dalam upaya untuk mencari pendekatan pemecahan masalah pendidikan, khususnya terkait dengan belajar dan pembelajaran dalam kaitan konsep pendidikan masa depan.

Konsep pendidikan yang selama ini kita laksanakan (pendekatan behavioristik) lebih cenderung mematikan potensi yang ada pada anak. Bagaimana tidak, peserta didik dianggap sebagai gelas kosong yang dapat kita (Pendidik) isi dengan apapun. Padahal semua anak berbeda, dan masing-masing tentunya mempunyai potensi, pengetahuan dan keterampilan yang berbeda pula. Jadi, peserta didik bukanlah sebuah gelas kosong atau kertas putih yang dapat diisi atau ditulis semaunya oleh pendidik. Sangat jelas sekali, bahwa peran pendidik hanya sebagai motivator, fasilitator untuk menstimulasi potensi yang ada pada anak.

Pendekatan konstruktifistik lebih menekankan pada sesuatu yang beragam, ketidakteraturan, dan ketidakteraturan. Dengan memandang bahwa masing-masing anak itu berbeda dan memiliki potensi, serta model pembelajaran yang asik dan menyenangkan, maka akan indah sekali kiranya pendidikan kita. Sehingga tidak ada lagi yang namanya anak nakal ataupun bodoh.

Mulai bergesernya aliran atau pendekatan dalam pendidikan ini (beharioristik ke konstruktivistik), secara pelan namun pasti akan berujung pada penciptaan wajah pendidikan masa depan yang cerah. Harapan pendidikan masa depan adalah:
a. Teknologi komputer dan modernisasi pendidikan;
b. Perubahan dalam kualitas pendidikan;
c. Sekolah masa depan;
d. Guru masa depan;
e. Peran orang tua dalam pendidikan masa depan;
f. Teknologi komputer dan penelusuran kebudayaan;
g. Revolusi pendidikan.

Bisa dibayangkan, jika semua yang ada dilakukan melalui pendekatan konstruktivistik, maka harapan pendidikan masa depan tentunya sudah ada di depan mata kita. Untuk mendukung pergeseran dalam pendekatan pendidikan konstruktivistik ini, penulis mencoba mengaitkan dengan delapan postulat pendidikan (Robert Ulich Bab 12: Eight Postulates of Teaching dalam Philosophy of Education, Harvard University, Aerican Book Company. New York. 1981), yaitu (1) Postulat tentang individualisasi dan metode; (2) Postulat tentang totalitas; (3) Postulat tentang kemampuan atau motivasi; (4) Postulat tentang banyak sisi (many-sideness); (5) Postulat tentang mental order; (6) Postulat tentang keterkaitan mata pelajaran; (7) Postulat tentang self-activity; dan (8) Postulat tentang petunjuk etik.

Berdasarkan 8 (delapan) postulat pendidikan tersebut di atas merupakan dalil (postulat) yang harus dan benar-benar di pahami dan dihayati agar proses pembelajaran efektif dan efisien. Delapan postulat pendidikan ini memandang bahwa masing peserta didik merupakan individu yang memiliki karakter, cara belajar, kemampuan, dan motivasi berbeda.

Akhirnya, penulis berpendapat bahwa akan sulit ditemukan keteraturan karena setiap anak dimungkinkan untuk mengerjakan hal yang berbeda, baik jumlah maupun jenisnya. Akan sulit ditemukan kepastian karena setiap anak dimungkinkan melakukan pilihan kegiatan yang berbeda. Demikian pula, akan sulit ditemukan ketaatan dan kepatuhan karena suasana depat, ekspresi diri, pengambilan peran yang berbeda sangat ditonjolkan. Jadi, yang tersisa dan nampak sangat jelas adalah kesemrawutan. Sebagai penutup, penulis menegaskan bahwa konsep pendidikan masa depan hendaknya sebagai paradigma pembelajaran, “kesemrawutan” merupakan kerangka pikir pemecahan masalah-masalah pembelajaran dengan merancang beragam tindakan belajar sesuai dengna keragaman kekhasan si belajar, menuju ke tujuan yang beragam dengan strategi yang beragam, dan dengan melibatkan sumber-sumber yang beragam pula. Hidup adalah untuk menghargai keragaman dan menghargai perbedaan!


Daftar Pustaka:

Materi Pelatihan Tenaga Pendidik dan Kependidikan SMA Selamat Pagi Indonesia. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran, Batu: SMA Selamat Pagi Indonesia.

Degeng, I Nyoman S. 1998. Mencari Paradima Baru PemecahanMasalah Belajar Dari Keteraturan Menuju ke Kesemrawutan, Pidato Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang, Malang: IKIP Malang.

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Ulich, Robert. 1981. Eight Postulates of Teaching dalam Philosophy of Education, Harvard University, American Book Company, New York (dalam Fatimah, Siti. 1996. Delapan Postulat Pengajaran, Malang: FKIP-UMM).

Sang Juara!!!

Untuk pertama kalinya SMP Negeri 8 Tanjung mengikuti perlombaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP untuk bidang Matematika tingkat Kabupaten Tabalong tahun 2010, dan sekaligus menorehkan tinta emas sebagai nominasi juara II tingkat kabupaten Tabalong.

Siswa itu adalah Muhammad Arifin (siswa kelas VII saat mengikuti perlombaan, sekarang tingkat VIII)



Sambutan Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Tanjung (H. Bastami, S.Pd.) saat penyerahan Thropy, sertifikat dan uang pembinaan pemenang Olimpiadi Sains Nasional (OSN) tingkat Kabupaten Tabalong.





Naaahhh... ini nich giliran tim pembimbingnya ikut nebeng tampil (maklum, ikutan bahagia atas keberhasilan siswanya ^_^, dari kiri: pak E. Karsutiono,S.Pd. - guru pendamping mata pelajaran IPA & Matematika, M. Arifin, dan pak Deddy Kesuma Ahyani, S.Pd. - Wakasek. Kesiswaan)


Sekolah, Lebih Siang Lebih Bermanfaat?


KOMPAS.com - Sebuah penelitian terbaru di Amerika Serikat (AS) ini memberikan gambaran, betapa anak-anak sekolah membutuhkan istirahat dan tidur yang cukup guna menyerap pelajaran dengan lebih baik. Penelitian dilakukan dengan memundurkan jam masuk sekolah 30 menit lebih telat dari jadwal sekolah pada umumnya.


Akan banyak tantangan bagi sekolah umum untuk menerapkan usulan ini, seperti padatnya jadwal angkutan dan kesibukan orang tua.
-- Judith Owens

Penelitian kecil itu dilakukan di sebuah sekolah di Rhode Island. Pihak sekolah memundurkan jam masuk 30 menit lebih telat dari jadwal sekolah pada umumnya.

Namun, penelitian dirancang untuk melihat perubahan kebiasaan tidur serta perilaku, tidak bertujuan untuk memonitor kinerja akademis para siswa. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine pada Juli ini mengindikasikan, memundurkan jam sekolah memberikan manfaat besar bagi para siswa.

"Hasilnya menakjubkan. Kami sama sekali tak menyangka," kata Patricia Moss, dekan akademis St. George's School di Middletown Rhode Island.

Banyak tantangan

Menerapkan jam masuk sekolah lebih siang 30 menit dari jam sekolah pada umumnya membuat para siswa lebih konsentrasi terhadap pelajaran di kelas. Suasana hati siswa pun cenderung baik, selain juga dapat mengurangi kasus keterlambatan dan membuat para murid menyempatkan diri untuk sarapan sehat.

Para peneliti mengatakan, banyak alasan yang membuat pemunduran 30 menit itu dapat membuat perbedaan besar. Dikatakan para peneliti itu, remaja cenderung tengah berada dalam kondisi tidur lelap ketika mereka harus bangun untuk pergi sekolah di pagi hari. Kekurangan tidur ini dapat membuat mereka linglung, terutama yang sulit tidur sebelum pukul 11.00 malam.

Dr Judith Owens, peneliti sekaligus dokter anak di Hasbro Children's Hospital di Providence mengatakan, temuan ini adalah sesuatu yang ilmiah dan menguatkan bukti, bahwa mengubah jam masuk sekolah memberikan manfaat bagi anak remaja.

Owens bilang, adalah sebuah fakta, bahwa studi eksklusif yang hanya dilakukan di St. George's School, Middletown, ini tidak melemahkan hasil penelitian. Namun dia mengakui, akan ada banyak tantangan bagi sekolah-sekolah umum untuk menerapkan usulan ini, seperti padatnya jadwal angkutan dan kesibukan orang tua.

Kendati begitu, beberapa sekolah di Minneapolis dan West Des Moines telah menerapkan usulan ini. Dalam risetnya, para peneliti melakukan survei terhadap kebiasaan tidur pada 201 siswa SMA selama 9 minggu.

Hasil survei tersebut ternyata mengesankan. Sekolah-sekolah pun lantas membuat perubahan permanen terhadap jam masuk sekolah. Jam masuk yang biasanya pukul 08.00, dibuat mundur menjadi 08.30.

Kemudian, setiap jam pelajaran dipotong 5 hingga 10 menit. Ini dilakukan agar jam pulang sekolah tetap pada jam normal dan mencegah jam pulang lebih siang sehingga akan mengganggu aktivitas anak di luar sekolah.

Hasilnya, terdapat peningkatan laporan pada siswa yang tidur sedikitnya selama delapan jam dari 16 persen menjadi hampir 55 persen. Laporan siswa yang mengantuk di siang hari pun turun dari 49 persen menjadi 20 persen.

Laporan siswa yang kesiangan juga dilaporkan menurun hingga setengah. Para siswa juga mengaku tak lagi merasa terlalu tertekan atau kesal. Plus, kunjungan pada bagian kesehatan yang kini menurun drastis. Sementara permintaan sarapan pagi yang disiapkan bagi siswa meningkat dua kali lipat.

Moss mengatakan, siswa yang menyempatkan sarapan sehat dapat membantu konsentrasinya saat pelajaran. Penelitian mengatakan, jika sekolah masuk siang murid akan mudah konstresi.

Tidak cocok

Sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat keputusan memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 WIB, banyak pelajar harus bangun lebih pagi sehingga waktu tidur mereka berkurang. Dan memang, sampai saat ini belum ada studi khusus tentang dampak dimajukannya jam masuk sekolah di Jakarta.

"Tidak usah dilakukan penelitian juga memang akan begitu”, ujar pakar pendidikan Dr Anita Lie kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (8/7/2010), menanggapi hasil penelitian tersebut.

Anita mengatakan, hal tersebut dikarenakan stamina siswa telah meningkat sehingga mereka menjadi lebih konsentrasi. Di luar negeri, sekolah siang diterapkan karena mereka hanya bersekolah saat musim gugur dan semi, sedangkan pada musim panas siswa diliburkan selama dua bulan.

Menurutnya, di Indonesia pengaturan waktu seperti itu tidak cocok. Indonesia merupakan negara tropis, sehingga kelembaban udaranya tinggi dan membuat tubuh mudah letih.

“Di Indonesia masuk siang tidak cocok, sekolah cukup satu shift saja, sedangkan untuk siang hari seharusnya kegiatan ekstrakulikuler,” ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala Surabaya ini.

Dia melanjutkan, sekolah full day pun tidak cocok diterapkan di Indonesia. Hal itu karena sekolah di Indonesia rata-rata sudah menggunakan AC, sehingga akan berdampak pada pemanasan global yang semakin parah. Apalagi, kata dia, sekarang sekolah tidak punya pilihan lain selain menggunakan AC.

"Contoh saja Singapura, yang merupakan negara maju, sekolah tidak menggunakan AC," ujar peraih gelar Doktor Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University, Texas, AS, ini.

Orientasi Siswa Baru Tapel 2010/2011

Anak-anakku yg disayangi Allah,
Selamat bergabung di SMP Negeri 8 Tanjung, kalian adalah anak-anak yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah dengan diberi kesempatan bergabung di sekolah ini. Karena itu bersyukurlah kepada Allah sebagai tindak lanjut dari nikmat itu. Banyak temanmu yang ingin masuk dan bergabung di sekolah ini tapi mereka belum diberi kesempatan oleh Allah untuk berada disini sebagai murid SMP Negeri 8 tanjung. Kalian adalah anak-anak pilihan, dan Insya Allah akan terus menjadi generasi pilihan jika kalian selalu bertekad kuat dan bertawakkal kepada Allah dalam meraihnya, Amiiieennn....

Sistem Ranking Bikin Anak Tak Sekolah

Anggota Komisi A DPRD Karimun, Provinsi Kepulauan Riau Ust Komaruddin mengatakan, banyak anak dari keluarga tidak mampu terancam tak sekolah akibat penerapan sistem rangking dalam penerimaan siswa baru.

”Banyak warga mengadu karena anaknya terancam tak sekolah akibat sistem rangking dalam penerimaan siswa baru,” katanya, di Tanjung Balai Karimun, Jumat (2/7/2010).

Warga mengaku terancam tidak dapat menyekolahkan anak karena sekolah terdekat tidak menerapkan sistem rayon atau domisili dalam menerima siswa baru.

”Bagi warga menengah atas mungkin tak masalah, karena mereka dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah yang lebih jauh. Sebaliknya, warga miskin justru menjadi masalah karena terbentur biaya ongkos anak ke sekolah,” katanya.

Ia menjelaskan, keluhan tersebut umumnya berasal dari orang tua yang akan menyekolahkan anaknya ke jenjang SMA.

”Untuk tingkat SD dan SMA belum jadi masalah karena jumlah sekolah di dua tingkatan ini lumayan banyak,” ucapnya.

Menurut dia, Dinas Pendidikan seharusnya menerapkan sistem rayon sehingga memberi kesempatan bagi anak tidak mampu untuk diterima di sekolah terdekat.

”Kalaupun sistem rangking, pengelola sekolah harus tetap mengutamakan anak yang tinggal di sekitar sekolah sehingga tidak satupun anak yang gagal masuk sekolah,” tuturnya.

Pada rapat dengar pendapat bersama Disdik beberapa waktu lalu, Komisi A sebenarnya sudah menyampaikan agar penerimaan siswa baru tetap mengutamakan anak terdekat. Namun, kenyataannya penerimaan siswa baru mengacu pada sistem rangking.

”Sistem rangking ini membuka peluang adanya anak titipan pejabat terutama pada sekolah-sekolah unggulan,” tambahnya.

Pihak dewan dalam waktu dekat berencana akan memanggil kembali Disdik guna mempertanyakan kebijakan tersebut. ”Kami menginginkan tidak ada anak yang tidak bersekolah pada tahun ajaran kali ini,” ucapnya.

Sementara itu, seorang warga Tanjung Balai Karimun, Rz, mengaku terancam tidak dapat menyekolahkan anaknya karena sekolah terdekat menerapkan sistem rangking.

”Anak saya mau masuk SMA, sementara sekolah negeri terdekat menerapkan sistem rangking,” katanya.

Dia mengatakan tidak punya biaya untuk menyekolahkan anak ke sekolah yang lebih jauh karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk ongkos angkutan umum.

”Dekat rumah kami memang ada sekolah swasta, namun kami tentu tidak berani menyekolahkannya ke sana karena biaya jauh lebih besar,” tambahnya.

Di Pulau Karimun Besar terdapat empat SMA negeri yang letaknya saling berjauhan. Keempat SMA tersebut masing-masing SMAN 1 di Kelurahan Kapling Kecamatan Tebing, SMAN 2 di Batu Lipai, SMAN 3 di Kelurahan Sei Raya Meral dan SMAN 4 Binaan di Bati di Tebing.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/02/20233211/Sistem.Ranking.Bikin.Anak.Tak.Sekolah-14

Orangtua Khawatirkan Dampak Video Porno

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Sejumlah orangtua di Bandar Lampung mengkhawatirkan anaknya melihat video mesum yang diduga dilakukan artis Indonesia melalui jaringan internet atau telepon seluler.

"Belakangan ini saya pantau anak-anak ketika membuka internet di rumah, jangan sampai mereka menyalahgunakan untuk hal yang kurang baik itu," kata Ny Nia Nasrul, warga Labuhan Ratu, Kedaton, Bandar Lampung, Rabu (9/6/2010).

Selain itu, lanjut dia, telepon seluler milik anaknya yang masih duduk di bangku kelas II SMP juga selalu diperiksa.

"Biarlah dikatakan orangtua kolot juga tak masalah karena itu semua demi kebaikannya," kata dia.

Pengakuan serupa diungkapkan Ny Nurlela, warga Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung. Ny Nurlela mengatakan, merebaknya berita penyebaran video mesum itu membuat dia lebih waspada terhadap kegiatan anak-anaknya.

"Memang sulit memantau selama sehari penuh, mungkin di rumah bisa, tetapi kalau di luar apakah bisa. Hanya, setiap ketemu anak-anak selalu kami nasihati," ujar dia.

Psikolog Diah Utaminingsih, S.Psi MA.Psi, mengatakan, peristiwa tersebut jangan dijadikan pengekangan terhadap anak karena bisa menimbulkan hal sebaliknya, yaitu ingin berusaha melihat dan lebih buruk karena ada keinginan meniru perbuatan itu.

"Justru hal itu dijadikan pembelajaran, dengan menerangkan kepada anak-anak apa akibatnya jika melakukan hal tersebut," kata dia.

Diah menganjurkan orangtua untuk memberikan penjelasan kepada anak-anak bahwa perbuatan tersebut hanya kenikmatan duniawi sesaat, tetapi bagi warga Indonesia yang beragama, selain dosa, perbuatan itu juga akan berdampak buruk bagi anggota keluarga.

"Terangkan kepada anak-anak bahwa perbuatan tersebut, selain membuat malu diri sendiri, juga keluarga," ujar Diah, yang juga Manajer Unit Psikologi dan Pengembangan SDM Universitas Lampung.

Sementara terkait pemberitaan video mesum itu, sejumlah orang, dari remaja hingga orang dewasa, di Lampung pun "berburu" video tersebut.

"Saya coba mencari di internet belum dapat. Mungkin sudah dihapus kali ya," ujar Toni, remaja yang tinggal di Bandar Lampung.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2010/06/09/14363771/Orangtua.Khawatirkan.Dampak.Video.Porno-5

RSBI... Ah, Tes RSBI Kok Diklaim Rahasia Negara!

Belum seminggu didirikan, posko pengaduan penerimaan siswa baru yang dikoordinir LSM Malang Corruption Watch (MCW), Malang, Jawa Timur, sudah menerima aduan dari masyarakat.
Ada yang merasa dicurangi. Anaknya selalu dapat rangking tiga besar, tapi kalah oleh anak guru di sekolah itu yang nilainya biasa-biasa saja.
 -- Zia U Haq

Disampaikan koordinator MCW, Zia Ul Haq, ada orangtua yang memprotes karena mengalami diskriminasi saat mengikuti tes jalur mandiri di sebuah SMA RSBI di kawasan Tugu. "Intinya, ada yang merasa dicurangi. Anaknya pintar selalu dapat rangking tiga besar, tapi kalah oleh anak guru di sekolah itu yang nilainya biasa-biasa saja," ujar Zia, Selasa, (8/6/2010).
Pihak MCW sendiri sudah mengklarifikasi hal tersebut ke sekolah yang bersangkutan. Hanya, sekolah itu tetap bersikukuh, bahwa hasil tes masuk tidak bisa diungkapkan karena rahasia negara.
Keluhan ketidakterbukaan dalam seleksi masuk itu menambah suara sumbang terkait penerimaan RSBI. Belakangan ini, penerimaan siswa RSBI dicap penuh rekayasa oleh masyarakat.
Sehari sebelumnya, Senin (7/6/2010), lima orangtua peserta tes jalur mandiri di SMAN 3 memprotes ketidakadilan serupa ke Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Shofwan. Padahal, selama ini SMAN 3 dikenal sebagai sekolah yang sangat selektif memilih siswa.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/09/14164781/Ah..Tes.RSBI.Kok.Diklaim.Rahasia.Negara.

OPINI: Kasta dan ISO di Sekolah

Oleh: DARMANINGTYAS*
Anggota Pengurus Majelis Luhur Tamansiswa, Yogyakarta

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan Nasional telah keliru dengan kebijakannya mengembangkan rintisan sekolah bertaraf internasional dan sekolah bertaraf internasional, serta membuat standar tunggal manajemen pengelolaan sekolah dengan sertifikasi ISO 9001:2000.

Kebijakan itu tanpa disadari telah menciptakan kasta bagi sekolah: sekolah bertaraf internasional (SBI), rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), sekolah kategori mandiri, sekolah standar nasional, sekolah reguler, dan sekolah pinggiran. Itu di luar sekolah internasional yang mulai merambah kota provinsi dan dimasuki anak asli Indonesia.

Cikal bakal kasta sekolah terjadi pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro (1993-1998). Dia membentuk sekolah unggulan dengan maksud mengeliminasi sebutan sekolah favorit. Banyak sekolah yang dikenal masyarakat sebagai sekolah favorit tak masuk kategori sekolah unggulan sebab proses menjadinya melalui penunjukan di setiap provinsi.

Aspek politis (mempromosikan sekolah bersangkutan) tak dapat terelakkan. Banyak sekolah yang nyata-nyata unggul tak ditunjuk sebagai sekolah unggulan, sebaliknya yang disebut sekolah unggulan belum tentu unggul. Istilah sekolah favorit sendiri berasal dari masyarakat, yang secara obyektif kontinu mengamati alumni suatu sekolah. Lulusan SD favorit diterima di SMP favorit. Lulusan SMP favorit masuk SMA favorit. Lulusan SMA favorit lolos ke perguruan tinggi negeri favorit.

Terencana

Sekolah unggulan lahir secara terencana. Pembentukannya disertai penggelontoran dana dari pemerintah. Keberadaan sekolah unggulan lalu dilegitimasi menjadi RSBI dan SBI setelah pergantian UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional ke UU No 20/2003. Pasal 50 Ayat 3: ”Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan jadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”.

Pasal ini sebetulnya tak mengikat. Tak ada kata ”wajib”. Daerah tak dapat dikenai sanksi. Karena program ini datang dari pemerintah pusat dan setiap daerah bangga dengan SBI: daerah berlomba mengembangkan SBI sebanyak-banyaknya. Lagi pula, di balik pembentukan RSBI dan SBI itu ada dana ratusan juta rupiah.

Soal yang timbul dari RSBI dan SBI: selain beroleh dana ratusan juta rupiah, ia juga diberi kebebasan memungut biaya dari murid tanpa ada batasan dari pemerintah. Sekolah berlabel SBI atau RSBI jadi amat mahal. Untuk masuk SD RSBI, selain harus tes, seseorang membayar jutaan rupiah. Ironisnya, masyarakat terbuai dengan sebutan itu: meski mahal, sekolah itu diburu.

Pada sekolah negeri lain, kucuran dana terbatas. Bagi sekolah swasta, gelontoran dana adalah mustahil. Inilah genesis ketidakadilan antara RSBI atau SBI dan sekolah lain. Dalih pengelola RSBI: biaya yang mahal adalah untuk memenuhi fasilitas demi menuju SBI. Dalih pengelola SBI: biaya yang mahal dipakai demi mencapai standar internasional.

Maka, sekolah yang dulu disebut favorit tak lagi bisa diakses golongan miskin. Ia jadi sangat elitis. Anak miskin meski pintar terpaksa harus belajar di sekolah pinggiran karena biayanya terjangkau. Pemerintah tanpa sadar menciptakan lebih dari satu sistem pendidikan nasional: SBI, RSBI, dan sekolah lain. Ini bertentangan dengan UUD 1945 yang menyatakan bahwa pemerintah menciptakan satu sistem pendidikan nasional.

Dampak buruk RSBI dan SBI: ia membentuk kultur tersendiri lewat pemakaian bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar beberapa pelajaran. Sebagai upaya meningkatkan kemampuan, berbahasa Inggris selama jam pelajarannya di sekolah tentu tidak salah. Namun, bila bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar di sekolah menggantikan bahasa Indonesia, itu mengingkari Sumpah Pemuda dan melanggar UUD 1945 yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Sertifikasi ISO

Kementerian Pendidikan Nasional juga mendorong sekolah dan kampus memiliki sertifikasi ISO 9001:2000 sebagai wujud standardisasi manajemen sekolah dan kampus. Kebijakan mendorong peningkatan manajemen sekolah adalah baik, tetapi tak harus dicapai dalam bentuk sertifikasi ISO 9001:2000 yang sarat kapital. Demi sertifikasi ISO 9001:2000 diperlukan puluhan juta rupiah (mulai dari persiapan hingga mendapatkan sertifikat). Ujung-ujungnya, beban biaya sertifikasi ISO harus dipikul murid atau mahasiswa.

Sebagai sebuah sistem manajemen mutu, ISO 9001:2000 mendefinisikan ”mutu” dalam nalar industri, yakni untuk kepuasan pelanggan. Hal ini tentu tidak sesuai dengan hakikat mutu dalam terminologi pendidikan, yang lebih substansial dan kultural. Mutu dalam pendidikan berbicara mengenai pembentukan karakter, pemahaman akan kehidupan, relasi sosial, dan pandangan dunia anak didik.

Isonisasi sekolah telah menjebak pengelolaan pendidikan pada persoalan manajerial belaka, seakan-akan persoalan pendidikan di Indonesia adalah masalah manajemen pengelolaannya. Padahal, jelas, dalam pendidikan, manajemen itu hanya sarana untuk mencapai mutu, bukan sebagai tujuan utama. Sungguh naif bila sebagai sarana kemudian dijadikan tujuan dan diproyekkan.

Oleh sebab itu, sama halnya dengan program RSBI-SBI yang perlu dihentikan, program isonisasi sekolah pun perlu dihentikan. Pengelolaan sekolah perlu berbasis budaya, dana pemerintah yang besar lebih baik diarahkan untuk peningkatan fasilitas pendidikan dan kesejahteraan guru daripada untuk membeli sertifikat ISO guna standardisasi manajemen.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/02/0912354/Kasta.dan.ISO.di.Sekolah

Pendidikan Nasional Kehilangan Arah

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendidikan di taman kanak-kanak sudah mengajarkan pelajaran berhitung, dan bahasa Inggris. Perguruan tinggi marak membuka pendidikan kewirausahaan (entrepreneur). Di tingkat sekolah menengah digalakkan sekolah berstandar internasional. Sekolah asing juga bertebaran. Ini gambaran pendidikan nasional kita yang kehilangan arah.

Persoalan krusial lainnya, di pendidikan tinggi pemerintah telah mengeluarkan berbagai aturan sebagai dasar hukum penyelenggaraannya. Akan tetapi, ternyata aturan-aturan yang dibuat tidak lepas dari agenda dan pengaruh lembaga-lembaga keuangan internasional dengan diterapkannya Washington Concencus dan Structural Adjustment Program. Akibatnya, kebijakan pendidikan yang dihasilkan lebih condong pada kepentingan pasar, bukan pada pemenuhan hak-hak warga negara atas pendidikan.

Demikian benang merah Dialog Publik dengan topik "Nasib Pendidikan Indonesia Pascapencabutan UU BHP", yang digelar Komite Bersama Aksi rakyat (Kobar) 2 Mei bekerja sama dengan Serikat Mahasiswa Universitas Paramadina, Selasa (1/6/2010) di Universitas Paramadina, Jakarta. Tampil sebagai pembicara, pakar pendidikan HAR Tilaar dan Koordinator Nasional e-Net for Justice, Eny Setyaningsih.

HAR Tilaar mengatakan, komersialisasi pendidikan yang semakin menjadi-jadi dewasa ini dan menyebabkan warga kalangan miskin tidak bisa mendapatkan pendidikan. Hal ini bertentangan sekali dengan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. "Kita negara kere, miskin, tapi biaya pendidikan sangat mahal," tandasnya.

Tilaar juga mengkritik pendidikan di semua tingkat pendidikan yang mencerminkan pendidikan nasional kehilangan arah. Hal itu seperti taman kanak-kanak yang mengajarkan Matematika dan Bahasa Inggris. Seharusnya hal itu tidak diajarkan karena masa kanak-kanak itu adalah masa bermain. Ini diperparah kalau masuk sekolah dasar anak-anak ditanya dulu apa sudah TK atau sudah bisa berhitung.

Pada tingkat sekolah menengah, ada pula sekolah berstandar internasional yang hasilnya, apakah berwatak Indonesia, masih perlu dipertanyakan. Pendidikan sudah menjadi ajang bisnis. Pendidikan sebagai lembaga bisnis bukan untuk kepentingan anak, melainkan kepentingan bisnis semata.

Di perguruan tinggi juga marak pendidikan kewirausahaan. Seharusnya pendidikan kewirausahaan dimulai dari pendidikan dasar, bukan hanya di perguruan tinggi. "Kalau hanya diajarkan di perguruan tinggi, tak akan berhasil. Sudah karatan. Ke depan, bangsa ini membutuhkan manusia-manusia kreatif yang bisa menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan orang lain," papar Tilaar.

Eny Setyaningsih yang membahas Peran Lembaga Keuangan Internasional dalam Kebijakan Pendidikan di Indonesia mengatakan, di pendidikan tinggi, pemerintah telah mengeluarkan berbagai aturan sebagai dasar hukum penyelenggaraannya.
"Akan tetapi, aturan-aturan yang dibuat ternyata tidak lepas dari agenda dan pengaruh lembaga-lembaga keuangan internasional dengan diterapkannya Washington Concencus dan Structural Adjustment Program. Akibatnya, kebijakan pendidikan yang dihasilkan lebih condong pada kepentingan pasar, bukan pada pemenuhan hak-hak warga negara atas pendidikan," katanya.

Menurut Eny, pendidikan di Indonesia harus dikembalikan sebagaimana diamanatkan konstitusi karena di situlah hakikat pendidikan untuk kebudayaan, identitas, dan kedaulatan.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/01/20252012/Pendidikan.Nasional.Kehilangan.Arah

Percaya Gak Percaya Dech.....!!!

Rabu (5/5) SMP Negeri 8 mengadakan acara perpisahan nich.... Tepatnya jam 10.00 WITA, bertempat di lapangan SMP Negeri 8 Tanjung dilaksanakan terlebih dahulu acara cerremonial, yaitu pengukuhan kelulusan siswa kelas IX tahun pelajaran 2009/2010.

Nah... secara tidak sengaja tuh, kamera jeprat'jepret aja ke semua arah (happy mode on), dengan maksud agar semua moment pada hari ini (Rabu,5/5) tidak ada yang terlewatkan.

Setelah di edit, TERNYATA.... memang ada sesuatu yang ganjil dech...
Coba saja d'zoom/diperbesar gambar yang ada....
Ntar akan keliatan tas tanpa orang dech.... hahahaha...
Ya ini'lah kebesaran illahi rabbi....

Artinya, memang ada dunia selain dunianya kita... tul gak??!!??
Tapi kami bersyukur dech, orang 'sebelah' saja peduli akan pendidikan (baca: tas melayang artinya ikut sekolah bro), masa kita orang yang benar-benar bisa keliatan malah gak peduli dengan pendidikan, hahaha...

Ya inilah sedikit pengalaman selama di SMP Negeri 8 Tanjung....
MAJU TERUS DUNIA PENDIDIKAN!!!!

Perpisahan Kelas IX Tahun Pelajaran 2009/2010

Rabu (5/05), SMP Negeri 8 Tanjung mengadakan kegiatan perpisahan untuk kelas IX tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa yang lulus sebanyak 37 orang dari 37 siswa (berdasarkan pengumuman kelulusan UN tanggal 7 Mei 2010).

Banyak sekali persiapan  untuk menyambut kegiatan perpisahan ini. Apalagi SMP Negeri 8 Tanjung baru pertama kali meluluskan dan melaksanakan kegiatan perpisahan setelah mulai berdiri pada tahun 2007.

Dalam pentas seni, turut melibatkan peran aktif siswa kelas VII dan VIII. Diantaranya pembacaan puisi, vocal group, bercerita dengan bahasa Banjar, dan lain sebagainya.

Buat seluruh pihak yang telah membantu, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya hingga acara tersebut dapat berjalan dengan aman dan lancar.

Membuat Belajar Menjadi Menyenangkan

Orang tua mana yang takkan senang mempunyai anak yang senang atau suka belajar? Tapi masalahnya, apakah kita sebagai anak happy belajar? Jika kamu punya kesulitan dalam belajar atau malas belajar dan sejenisnya, berikut tips yang bisa Xpresi bagi untuk kamu:

1. Suasana yang menyenangkang.
Ini syarat mutlak yang diperlukan supaya kamu senang belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.

2. Membuat diri senang belajar.
Ini jauh lebih penting daripada menuntut diri sendiri mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Jika kamu bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan, kamu akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.

3. Kenali tipe dominan kamu.
Apakah cara belajar kamu termasuk tipe auditory (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), visual (melihat) ataukah kinestetik (fisik). Jika kamu secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar kamu, nantinya kamu tidak akan mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga tidak berkembang dengan maksimal.

4. Belajar dengan jeda.
Beri dirimu waktu istirahat setiap 20 menit yang akan jauh lebih efektif daripada belajar langsung satu jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.

5. Jaga antusiasme.
Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi sangat antusias dan semangat untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari sesuai dengan minat dan perkembangan. Kami pasti akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya akan menjadi stres dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.

Gimana? Jangan bosan-bosan belajar ya. Keep trying.(int/nhk)

Ada cara lain agar belajar jadi lebih menyenangkan?, kasih tahu Xpresi dong..

Sumber: http://xpresiriau.com/tips-remaja/membuat-belajar-jadi-menyenangkan/

Pedoman Pelaksanaan Upacara Bendera Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2010

Dalam penyelenggaraan Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional serta agar pelaksanaan upacara bendera dapat berjalan lancar maka Pedoman Pelaksanaan Upacara Bendera Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2010 dapat diunduh melalui link http://www.depdiknas.go.id/